Yang sering didengung-dengungkan adalah pensiun muda pensiun kaya, kalau saya Pensiun muda pensiun berdaya dan tentu pensiun bahagia. Banyak cerita menyedihkan tentang pensiun, saya juga merasakan ketika mertua saya pensiun dari pegawai negeri dia menderita, tidak nikmat, tidak berdaya mungkin juga kurang bahagia dan akhirnya tidak lebih 4 tahun setelah itu beliau harus meninggalkan anak dan keluarganya (wafat). Tapi urusan kematian hak Prerogatif Allah.
Pensiun hanyalah proses regenerasi, perenungan dan perbaikan kualitas hidup
Bagi saya pensiun bukan berarti berhenti total, makan-tidur, bangun terus mati. Pensiun hanyalah proses regenerasi dimana semua kegiatan mulai diserahkan pada orang lain. Dalam hal ini saya serahkan pada Istri saya Neny Setijowati untuk segala urusan : managemen, marketing dan mengurus bisnis. Untuk pekerjaan coding / programming / support saya serahkan ke seluruh karyawan / tim yang ada. Sebagian juga diberikan pada tim yang sudah siap mandiri.
Sementara pekerjaan yang enak, ringan (enake dewe ae), mudah dan bisa meningkatkan kualitas hidup saya dengan melakukan:
1. Bangun lebih pagi agar bisa sholat malam (kalau bisa), karena pada 2/3 malam itu banyak orang tidur lelah karena kecapekan seharian kerja, sementara saya bisa khusuk berjumpa dengan Nya.
2. Jam 5 keluar rumah jalan jalan, olah raga agar fisik semakin sehat, segar dan bugar.
3. Melihat indahnya alam sekitar agar mata tidak capek karena lama didepan komputer dan TV,
4. merasakan segarnya udara pegunungan, merasakan begitu melimpahnya air sehingga rasa syukur semakin meningkat.
5. Jam 5:30 pagi mengajak anak anak ngasih makan ikan, ayam dan entok / mentok serta binatang peliharaan lainnya.
6. Jam 6:30 mengantar anak (Aim, Isa, Ais) ke TK, SD yang berjarak 3 KM sambil berdoa dan bernyanyi selama perjalanan.
7. Jam 7:00 keliling desa atau ke Pasar belanja dan untuk melihat-lihat dan merenung peluang apa yang bisa dimaksimalkan,
8. Jam 8:00 sampai dirumah kalau sempat menulis / ngeblog kalau ga sempat yah santai sejenak sambil evaluasi pekerjaan.
9. Jam 10 s/d 11 pagi menjemput anak, kadang kadang juga saya ajak melihat lihat binatang peliharaan,
10. Jam 11 tidur 1 – 2 jam agar fisik lebih bugar,
11. Jam 12 s/d 15:00 memantau pisisi istri (lewat GPS mobil tracking), memantau tim /karyawan kadang membantu coding / programming, membantu support dan memberi motivasi agar tetap semangat.
12. 15:30 sore mengantar 3 anak mengaji di TPQ, menunggu kadang cangkrukan dengan warga sekitar, ngobrol ngalor-ngidul dll.
13. Pulang ngaji ngasih makan ikan KOI, ikan LELE, ikan Gurami, Ayam Hias. Kadang mengajak jalan jalan anak naik bukit.
14. 17:00 sore Lihat TV, nonton berita, kadang juga lihat sinetron (kayak ibu ibu saja, heheheh)
15. 19:00 kadang browsing, baca baca, melihat hiruk pikuknya dunia,
16. Kalau hari sabtu dan minggu main golf (jarang), ke kolam renang (gratis), kolam pancing (milik sendiri), rekreasi, berkunjung ke orang tua (Jember), saudara dan acara hiburan lainnya.
17. Dan Ada 1001 kegiatan yang bisa meningkatkan kualitas hidup, kualitas renungan dan kualitas ibadah, kualitas syukur.
Kesimpulan: Pensiun bukan berarti selesai, pensiun adalah peningkatan rasa syukur dimana selama masih muda sering berkurang karena kesibukan yang begitu menumpuk, karena terkalahkan dengan banyaknya ide dan napsu yang lebih dominan.
Pesiun hanyalah regenerasi, penyerahan tonggak estapet dan memberi kesempatan pada orang lain untuk berkarya secara maksimal.
Pensun muda dan berdaya hendaknya bisa memberi peluang dan kesempatan pada yang lebih muda sehingga bisa mengurangi pengangguran, meningkatkan pemberdayaan dan kemandirian. tidak haus kekuasaan, tidak rakus kepemimpinan. Sementara yang tua berada dibelakang (tut wuri handayani) memberi dorongan, dukungan dan sumbangan pemikiran.
Pensiun muda tidak harus kaya raya (karena nilainya relatif dan tidak semua orang bisa), pensiun hendaknya bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas fisik, kualitas pikiran, kualitas perenungan, dan peningkatan kualitas hubungan dengan Sang Pencipta, kualitas pada lingkungan serta kualitas hubungan pada anak-anak, istri yang selama ini sering kita abaikan hanya karena uang, uang dan uang, materi, gengsi dan kekuasaan.
















