Archive for the ‘ Renungan ’ Category

Amuk Masa, Balas Dendam, Tawuran, saling fitnah, Teror,  pembunuhan, Mutilasi, Demo dengan perusakan, Pembakaran fasilitas Umum, Lempar batu, buat keributan, penggusuran adalah Wajah Baru Indonesia. Itulah demokrasi versi Indonesia.

Itulah jika orang gede hanya mementingkan kepuasan sesaat, kepuasan golongan, rebutan kekuasaan, sehingga melakukan tindakan, gontok-gontokan yang pada akhirnya akan dicontoh pada lapian bawah (guru kencing berdiri murid kencing berlari).

Itulah akibat tidakan yang tidak mau kalah, tidak mau ngalah, ingin menang sendiri, ingin menyelesaikan dengan cara sendiri, Tidak mau sabar, tidak mau melihat perbedaan, tidak senang kalau orang lain senang, iri kalau orang lain sukses.

Itulah jika dalam otak kita penuh dengan 10 rasa :

1. Selalu ingin meminta daripada memberi,
2. Selalu mementingkan ego dari pada mendengan pendapat orang lain,
3. Suka menuntut daripada memberi solusi,
4. Suka mendendam daripada pemberi maaf,
5. Terburu buru dari pada bersabar,
6. Ingin selalu menang daripada mengalah,
7. Mementingkan golongan dari pada kepentingan yang lebih luas,
8.  Suka memanas-mansi / mengompori dari pada mendinginkan suasana,
9. Sifat merusak daripada membangun,
10. Memusuhi daripada mengayomi,

Wah kok saya jadi begini yah, terus terang ini adalah spontanitas bukan direkayasa, bukan dipaksakan dan semoga juga bukan bentuk ego saya (hehehe).

Tulisan ini bukan sara dan semoga tidak melanggar UU ITE.

Yang Lain Biar Ribut Century, Saya Tetap Nyankul, siapa takut, kekekeke. Menyangkul, menggali, membalik tanah, sepintas tidak ada maknanya.

Menyangkul : ketika petani mau menanam maka harus dicangkul lahanya, mulai dari mengeruk tanah kemudian rumput yang mengganggu diletakkan di bagian bawah sehingga yang nampak di permukaan adalah tanah yang subur tanpa rumput yang mengganggu.

Rumput yang berada di bagian bawah akan mati, bukan mati tanpa makna, tapi menjadi humus, menjadi rabuk / pupuk yang akan menyuburkan tumbuhan yang ditanam di atasnya.

Hubungannya dengan kasus Century?

Kita cangkul saja masalahnya, kemudian yang buruk buruk dikubur dan kemudian mati, sehingga yang ada di permukaan / hasilnya yang baik. Yang mati tetap memberi kontribusi terhadap perjalanan bangsa, jangan merasa kalah : tapi jadilah seperti rumput / kotoran yang berubah fungsi menjadi penyubur untuk generasi mendatang.

Itulah hakekat kebaikan dan keburukan: Kebaikan tidak akan ada tanpa ada keburukan. Kebenaran tidak akan bermakna tanpa kesalahan. Keduanya saling melengkapi dan memaknai. Maka berterima kasihlah pada keburukan dan kesalahan, tanpa itu kita tidak bisa menjadi seperti sekarang.

Hakekat Kelahiran dan Kematian

Disetiap renungan tengah malam saya selalu memikir tentang kelahiranku di muka bumi ini, kenapa saya dilahirkan, kenapa Tuhan memilih saya, kenapa kelahiran saya di kota jember, dari seorang petani, dari seorang ibu yang tidak pernah mengenyang dunia pendidikan (SD saja tidak pernah). Karena kedua orang tua saya beragama Islam, tentu saya juga beragama Islam.

Seumpama saya dilahirkan lewat Presiden Sby + Ibu Nani Yudhoyono saya tentu akan menjadi orang yang terkenal dan dihormati  (ngayal).

Atau seumpama saya dilahirkan di Israel, tentu saya menjadi orang Yahudi yang taat, dan tentu akan dimusuhi oleh banyak orang.

Hidup ini adalah penderitaan, dari penderitaan dan susah payah itulah akhirnya mencari dan terus mencari kenapa manusia dilahirkan, dan untuk apa?,  bukankah Engkau telah menciptakan Maikat yang selalu ta’at, yang  tidak pernah membantah dan tentu yang selalu beribadah tiada henti pada MU.

Inilah rahasia : bahwa pada keburukan dan kejahatan manusia masih ada yang Menyembah dan Taat padaMu. Bahwa diantara kemiskinan, kekayaan masih ada yang selalu Ingat padaMu.

Manusia lahir penuh dengan napsu, dengan napsu itu timbulah keinginan akan materi dan mempertahankan hidup, dengan napsu manusia bisa berkembang biak (hehehe), untuk semua itu butuh teknologi. Teknologi itu tidak lepas dari Hukum Tuhan. Dari situ manusia akan berfikir siapa dibalik semua Maha Arsitek Itu. Sampai akhirnya manusia menyadari : bahwa Dialah Tuhan, dialah Allah Yang Maha Besar. Itulah Jalan, Itulah Tempat Kembali. Itulah akhir dari kematian.

Maha suci Allah,  Maha Guruku, Maha Pententu Kelahiran dan kematian. Pemilik Rahasia dan hakekat kelahiran dan kematian.

Belum tentu jalan yang selama ini aku lalui benar, belum tentu prisip yang aku pegang benar, belum tentu kesuksesan yang saya rasakan juga benar.

Satu hal yang saya pegang teguh, dan semoga tidak salah : Bahwa aku hanya nyembah Tuhan Yang Menciptakan diriku, Tuhan Yang Menciptakan Alam semista ini.

Dan suatu hal yang saya rasakan, bahwa aku sangat bersyukur pada Allah, bahwa cobaan yang diberikan padaku bisa saya lalui tentu berkat PertolonganMu. Tetapi itu tidak seberapa dibanding Nikmat yang diberikan Tuhan pada diriku : Begitu Melimpah, Begitu Tiada Batas, seperti hidup dalam Kelimpahan dan Muzijat. Kau berikan aku Sorga di Dunia, dan semoga setelah mati kelak Kau Hadiahkan aku Surga, Tapi yang lebih dari segalanya jika Engkau memberi kesempatan untuk Bertemu Dengan Mu Ya Tuhan, dalam CintaMu, dalam KaruniaMu, dalam RidhoMu dan dalam Maha Pengasih dan Maha PenyayangMu.

Ya : Engkau adalah TuhanKu, kelahiranku adalah kehendakMU, dan tentu kematianku juga KehendakMu. Diriku dulunya tiada, kemudian ada, dan pada akhirnya kembali tidak ada.  Rasa syukur yang tiada tara aku panjatkan pada Mu, Kekaguman yang tida batas tentang ke Maha Besar Mu.

Ya Allah :  Semua adalah milikMu, tetapi keburukan, dosa, salah dan ketidak berdayaan adalah milikku.

Lailahailallah, Lailahailallah, Lailahailallah.

Renungan untuk diriku sendiri.

Mengenang Dua Tahun Ngeblog

Tidak terasa ternyata saya sudah 2 tahun ngeblog (menulis di blog), menulis apa saja (ketika itu saya berinama SEO tangan gatal). Tentu banyak tulisan yang bermanfaat, namun banyak sekali yang tidak bermanfat bahkan kadang menyesatkan.

Berikut adalah artikel pertama kali yanag saya tulis :

Selamat Datang di Blog Petani dari Kampung

Kesimpulannya apa pakde?

1. Kesimpulan ngeblok itu orang kurang kerjaan (hehehe) terutama bagi saya,
2. Bisa memuaskan bagi penulisnya (meskipun ga ada yang baca dan komentar)
3. Bisa untuk menyombongkan diri, hehehe (hasilnya akan banyak yang menghujat)
4. Bisa untuk menghasilkan uang (untuk review + pasang link   + pasang iklan)

5. Biar terkesan ngetop, apalagi pake blog berbayar (bukan gratisan, kekekeke)

6. Untuk menuangkan isi hati, uneg-uneg sehingga setelah nulis ada perasaan puas, lega gitu loh.

7. Menyalurkan napsu marah, dengan membuat tulisan daripada demo, tawuran, amuk masa (hahaha) mendingan nulis apa adanya (hati hati kalau keliru bisa kena UU ITE).

8. Bisa untuk mempengaruhi orang, menipu orang (tapi siap siap dipenjara, wah).

9. Dan ada 1001 alasan kenapa kita mesti ngeblok.

Catatan:

Semua terserah padamu, aku begini adanya, kuhormati ketulusanmu, mau menbaca dan meberi komentar pada blog ini.

Untuk anak anaku:

Jika kamu ingin mengenang, memahami pikiran papamu bacalah blog ini, jika suatu saat sumintar.com sudah disabled atau discontinue, carilah di asip di alamat ini:

http://web.archive.org/web/*/sumintar.com

Banyak dosa dan kesalahan yang telah saya lakukan, tidak mungkin aku tebus, tidak mungkin, kecuali Kau Maafkan, tidak mungkin aku masuk surga, kecuali Kau Berikan.

Yang lebih penting dari semua ini, aku bisa memahami kenapa aku dilahirkan, tapi yang paling penting bagiku adalah aku MengenalMU dan berjumpa denganMU, sebelum aku mati.

Tulisan ini saya posting lagi / posting ulang, karena belum terindex google, hanya judulnya yang saya rubah. Agar dari segi SEO tidak mengganggu.

Syair dan Lagu Mengenang 100 Hari Kepergian yth. Gus Dur (Alm. KH. Abudurahman Wahid).

Berjudul “Pahlawan Guru Bangsa

Ketika engkau pergi  tersentak dada ini
Jiwamu tegar Karyamu besar,
Gigih berjuang bela negeri,

Bersahaja dalam raga, merakyat mengayomi,
Dadamu lapang suaramu lantang,
Badai menerjang tak perduli.

Keragaman kau rajut dengan kebersamaan,
Jauh kedepan memandang dunia,
keruwetan kau urai lewat canda,
kebencian kau tukar dengan cinta,

Reff

Ayomi yang lemah, yang benar dibela,
Pelindung Umat Tuk Semua Agama.

Lawan kekuasaan demi demokrasi,
Tukar kekerasan dengan hak asasi.

Pandang dunia lewat mata hati,
Pahlawan bangsa  guruku sejati.

Cintamu pada negeri, Kau bawa sampai mati.
Namamu harum, doa mengalun,
sambut berpantun, rakyat tersenyum.

Jasamu tuk pertiwi, menggugah sanubari,
Takkan kulupa, oh guru bangsa,
Damailah dunia, Aman sejahtera.

Copyright (c) 2010 Sumintar.com