Merubah Indonesia dengan Memperbanyak Entrepreneurship

Merubah Indonesia dengan Memperbanyak Entrepreneurship, kaum wirausaha, pengusaha, Usaha Kecil Menengah  UKM, dan pada kaum muda mandiri. Dalam kampanye-kampanye yang saya tonton di televisi sepertinya perhatian untuk kaum ini kurang, para jurkam bicara masalah pengentasan kemiskinan, pengurangan tingkat pengangguran, padahal peluang lapangan kerja baru, terbanyak dilahirkan dari para pengusaha, wiraswasta, pengusaha kecil dan menengah.

Menambah pegawai negeri bukan solusi, menbah pegawai negeri akan semakin menguras APBN, semakin menguras keuangan negara, sementara pegawai yang ada saat ini kinerjanya bekum maksimal, kualitasnya juga masih dipertanyakan. Banyak pegawai negeri berprinsip kerja serius dibayar, kerja santai juga dibayar, kenapa harus serius. Memang tidak semua pegawai negeri bermental demikian, maaf.

Banyaknya PHK menunjukkan bahwa kinerja para pengusaha menurun, banyak partai malah memojokkan para pengusaha, tidak semua pengusaha buruk, mereka butuh iklim usaha yang kondusif, mereka butuh fasilitas dari pemerintah untuk melawan badai krisis global yang mendera. Merka tidak mampu bersaing, para buruh menuntuk kenaikan gaji sementara pengusaha menjerit, jangankan menaikkan gaji bisa menggaji rutin saja sudah tidak mampu, ujung-ujungnya PHK besar besaran.

Definisi entrepreneur seperti apa?

Sorang yang memiliki daya kreasi dan inovasi untuk merubah barang yang tidak berguna menjadi bernilai, merubah sampah menjadi pupuk organik yang bermanfaat, merubah kebiasaan dari sekedar brosing untuk suka-suka dirubah menjadi kegiatan bisnis yang bernilai, merubah product open source menjadi product yang bisa membantu banyak orang dan bisa digunakan dengan mudah sehingga menjadi bernilai dan laku dijual.

Berani mengambil resiko dari setiap kegiatan, penelitian, riset dalam rangka membuat produk baru, menemukan cara baru, mendapatkan jawaban baru dari setiap masalah yang muncul disekelilingnya.

Tanggap terhadap perubahan, tidak mudah menyerah, selalu punya alternatif penyelesaian, tidak menyalahkan keadaan, tidak menyalahkan takdir.

Tidak takut rugi, tidak takut salah, tapi takut kalau tidak melakukan kegiatan, takut kalau hidupnya hanya menjadi beban, hanya bisa meminta, hanya bisa menunggu dari perubahan itu sendiri. Enterpreneur turut andil dalam sejarah perubahan.

Berapa wirausahawan lagi dibutuhkan?
Pendapat Sosiolog David McClelland  suatu negara bisa menjadi makmur bila ada entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah penduduk. Singapura sudah 7,2% padahal pada 2001 baru 2,1%. Sedangkan Indonesia hanya 0,18% dari penduduk atau 400.000-an orang. Itulah kenapa Indonesia dibolak balik, tetap saja ketinggalan dengan negara tetangga. Bahkan para anggota legislatif banyak yang tidak tahu, tapi omong banyak tentang kemajuan Indonesia. Bagaimana kita bisa membuat perubahan semantara kita sendiri tidak pernah melakukan perubahan, dan tidak pernah memberi contoh nyata, setiap orang bisa omong, tapi sedikit orang yang mau mempraktekkannya.

Mengapa Indonesia sedikit Wirausaha

Ini mungkin hasil penjajahan yang terlalu lama, selalu diberi ikan bukan diberi kail dan jala oleh para pemimpin, para orang tua, para dosen dan guru di sekolah. Kebanyakan orang tua kita petani, dan pegawai negeri, pegawai negeri itu masuk zona aman, kerja dapat gaji, tidak kerja juga dapat gaji. Sekolah kita hanya mendidik jadi orang yang pintar teori, tapi seditik sekali praktek, pinter debat tapi kurang kerja nyata.

Kebanyakan dari kita bermental karyawan, bermental buruh, bukan salahnya tapi keadaan, lingkungan, kultur yang telah menempatkan pegawai adalah pekerjaan yang palin aman, pegawai negeri adalah impian setiap orang tua.

Yang paling parah adalah tidak mudah menjadi pengusaha, buruh demo naik gaji, sementara kinerja para buruh belum maksimal, perijinan yang sulit, mencari modal juga sulit, apalagi tidak punya jaminan.

Pengusaha dijadikan sasaran tembak,

Pengusaha sering menjadi sasaran tembak, tidak bisa menggaji diatas UMR, tidak memberi fasilitas pada karyawannya, padahal banyak pengusaha yang kena dampak krisis, jangankan menaikkan gaji, membayar gaji rutin saja susah. Jangankan menaikkan produktifitas, memproduksi saja tidak mampu karan bahan baku mahal, banyak uang siluman, biaya produksi tinggi, listri mahal, dan banyak masalah yang sering terabaikan.

Sumber Alam Melimpah, Sumber Energi Banyak, Kenapa Masih tidak makmur

Semua orang ngomong target kemakmuran, tapi bila entrepreneurship tidak diajarkan, semuanya tidak tercapai,  sejarah yang membuktikan.

Indonesia memiliki banyak komoditas, tambang mineral dan penghasil energi berlimpah tapi bukan bangsa kita yang mengubah menjadi end product, yang bermutu dan bernilai mahal harganya. Bila tidak ada tambahan nilai (added value) oleh bangsa kita, Indonesia tetap miskin. Kita lihat investasi dari luar negeri, orang kita jadi apa? Buruh!

Banyak Yang jadi TKI, karena di Indonesia Gaji Rendah, Lowongan Sedikit,

Mungkin kita bertanya kenapa banyak orang mencari kerja di luar negeri, ti Taiwan, di Malaysia, Hongkong, Singapore. Itu Karena di Indonesia sedikit lowongan kerja, kalaupun toh ada gaji buruh di Indonesia terlalu minim.

Ini disebabkan karena  sedikit entrepreneur yang bisa menciptakan lapangan kerja di dalam negeri.
Bila saat ini memang tak bisa memberikan pekerjaan, kita perlu bekali kaum muda kemampuan menciptakan lapangan kerja baru, membuat sesuatu yang baru dengan memaksimalkan yang sudah ada. Entrepreneur tidak hanya menolong mereka yang menganggur tapi menciptakan kesejahteraan masyarakat, lingkungan dan bangsa. Dan, kehadiran mereka lebih dibutuhkan dalam pemanfaatan sumber daya alam bagi kemakmuran rakyat, bukan modal asing.

Kesimpulan

Merubah Indonesia menjadi makmur bukan saja membagi-bagi dana ABPN untuk rakyat tanpa proses, apalagi hanya membagi-bagi pada para pejabat, legislatif yang terjadi selama ini. APBN hendaknya bisa didayagunakan secara maksimal untuk membangkitkan masyarakat madani, masyarakat mandiri, dengan terciptanya generasi muda mandiri yang mampu berwiraswasta atau berjiwa entreprenuer. Bukan hanya menjadikan rakyat menjadi semakit ketergantungan terhadap sumbangan, bukan menjadikan rakyat semakin tidak kreatif, menjadikan rakyat semakin manja, tetapi dana yang melimpah yang selama ini dijanjikan haruslah menjadi motivasi untuk selalu berkarya, menggunakan dana yang ada dalam rangka peningkatan kualias hidup, kualitas SDM, dan kemampuan untuk mandiri, menciptakan lapangan kerja baru, sehingga pada akhirnya bisa memberikan nilai dan kotribusi pada diri sendiri, lingkungan, masyarakat dan bangsa.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

HTML tags are not allowed.