Pilkada
Gara-gara pilkada Jawa Timur saya libur 3 hari tidak ngeblog dan tidak koding atau tidak bertapa alis harus turun gunung dari Padepokan Gunung Welirang Pandaan Pasuruan ke Kota Surabaya. Yah karena ingin mencoba manjadi warga negara yang baik, taat hukum, dan menyenangkan orang lain. Jujur saya bingung harus memilih yang mana, karena semua programnya bagus-bagus (gak taku prakteknya nanti kalau udah terpilih).
Karena bingung (lama gak nonton tv debat dan tv kampanye), maka saya ambil jalan mudah, yaitu membaca visi dan misi calon gubernur tanpa melihat siapa orangnya (agar pak tani lebih objecktif). Ternyata semua program memikirkan petani (kecuali petani internet), maka saya tambah bingung lagi.
Kemudian saya cari yang mempunyai visi dan misi mirip pakde tani yaitu pencipataan lapangan kerja, dan pemberdayaan ternyata semua juga sudah ada. Terus pakde baca lagi yang menciptakan wira usaha, nah ternyata ada salah satu yang dengan terang-terangan akan membantu penciptaan jutaan wira usaha, nah ini hampir cocok. Soalnya yang cocok 100 persen dengan pakde tidak ada, yaitu pendapatan 30jt/bulan yah maka itu jadi pilihan pakde. Padahalan sebelumnya pakde mau coblos semua, atau tidak dicoblos semua.
Dan hasilnya ternyata seperti berikut:
| Quick Count Pilgub Jatim | |||||||||||
Total daftar pemilih tetap: 190614 |
Dan kalau tidak ada yang mencapai 30 persen maka akan di ulang.
Pilkada Pemborosan Uang Rakyat
Saya sebenarnya tidak sependapat dengan sistem Pilkada seperti sekarang ini, tapi ya itu tadi ingin jadi warga negara yang baik. Dan apa yang terjadi hari ini adalah Pilkada Jawa Timur harus di Ulang, karena tidak memenui batas minimum. Dari kabar burung biaya ulangan tersebut akan memakan ratusan milyar. Nah sudah tidak kerja karena pilkada malah harus keluar uang rakyat (APBD) lagi.
Maka benar jargon yang digembar-gemborkan perserta APBD untuk Rakyat, mungkin artinya APBD untuk menghabiskan uang rakyat, nah jadi salah ketik kali (seperti pak tani ini suka salah ketik) itu kurang kata menghabiskan uang.
Cara Yang Lebih Murah dan Efisian
Harusnya diadakan sekali dalam lima tahun bersamaan dengan pemilihan Presiden dan Wakli presiden, keuntungannya.
a. Biaya bisa dihemat trilyunan, karena waktu dan tempat sama, jadi bisa lebih murah,
b. Lebih efisian karena tenaga pemantau panwaslu dan panitia kpu bisa disatukan,
c. Bisa mengurangi anarki dan bentrok antar peserta akibat kekalahan karena perhatian akan terpecah,
d. Lebih meriah, karena semua ikut pesta, pusat pesta, dibawah juga pesta Demokrasi.
e. Dan banyak lagi mohon ditambahkan rek di komentar….
Caatatan:
Mohon maaf kalau 3 hari ini pakde tidak bisa sowan ke blog panjenengan, soalnya pakde Ikut Pilkada di Surabaya, dan cangkul pakde (notebook) tertinggal di Taman Dayu.















pencuri kode says:
July 24th, 2008 at 03:33
wah pak de udah mulai masuk politik juga ya??? ko sampai sibuk gitu sih :(( jadi kita ga bisa dapat koding2 yang baru lagi
>>Wah apa pakde gak boleh nyoblos, la wong nyoblos itu enak, apa kalau udah nyoblos itu udah termasuk politik? Pilitik nyoblos kali? enak tenan….
[Reply]
adam.cikal.net says:
July 24th, 2008 at 06:00
kalo saya yang harus milih, ngikut kata Guspur aja.
“Gitu Aja Koq Repot”
wakakakak….
[Reply]
fahry says:
July 24th, 2008 at 06:27
iya pak, saya lihat juga pemborosan, coba duit segitu dibuat modal para petani internet…atau gak buat program pengentasan kemiskinan dengan menjadi petani internet, pasti lebih bermanfaat.
[Reply]
juned says:
July 24th, 2008 at 06:30
wah jangan jangan jadi team sukses pemilihan cagub nih…:P
[Reply]
harianku says:
July 24th, 2008 at 06:32
wah pak tani jadi warga yang bijak… hehhehe
>>Kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, bagian sila-sila dari Panca Sila.
[Reply]
aha says:
July 24th, 2008 at 07:01
pakde nyoblos siapa?
kayanya besuk putaran ke 2…
nyoblos istri aja ya….dah ketahuan enak..he2
mampir ke blog saya ya pakde…
>> Udah mampir kok, gak usah kawatir….
>> Putaran ke 2 ada 3 pilihan mas, 1. Dicoblos semua, 2. tidak dicoblos semua, atau coblos salah satu.
[Reply]
Diah says:
July 24th, 2008 at 09:03
Coder sudah
Blogger jg sudah
…………….sekarang jadi bakalan jadi kader dong
Wah selamat p.guru..mudah2-han saya ngak di tinggal
[Reply]
Dhimas says:
July 24th, 2008 at 10:53
cara itupun sepertinya masih menghabiskan uang rakyat pakdhe..
>> Memang tapi bisa lebih dihemat trilyunan (kalikan milyar x jumlah propinsi x jumlah kabupaten di Indonesia)
>> Bandingkan dengan Di Nunutkan dengan Pemilihan Presiden, paling hanya butuh kertasnya aja yang diperbanyak.
>> Memang demokrasi itu harganya mahal, Biaya, Tenaga, Pikiran, dan Partisipasi rakyat. Tapi tanpa demokrasi apa anda setuju?, kembali ke jaman kolo bendu….
[Reply]
windra says:
July 24th, 2008 at 11:13
Saya GOLPUT……..
*bangga………
>> Memang hidup itu pilihan dan disuruh memilih, termasuk Golput…..
[Reply]
yudi says:
July 24th, 2008 at 11:51
OOT, tempat saya pilkada kali ini sungguh aman. jalanan ga da yang meraung raung dengan sepeda motornya
[Reply]
Adieska says:
July 24th, 2008 at 20:10
Sebenernya cara pilkada sekarang bisa sangat efektif kalo kriteria calon yang bisa jadi kepala daerh dibuat seketat mungkin.
[Reply]
Abuhasan says:
July 25th, 2008 at 06:43
wah pak De ternyata sangat bijaksana, warga negara teladan. Memang biaya besar sekali pilkada itu, makanya jangan salah pilih apalagi kalo nggak milih, Pilih aja yang terbaik dari yang ada (Namanya manusia pasti ada kekurangannya), kecualai kalo ada calonnya dari jenis Malaikat, pasti kita pilih malaikat he he he
[Reply]
sluman slumun slamet says:
July 25th, 2008 at 07:49
nyoblos ahhhhhhhh………
[Reply]
Toga says:
July 25th, 2008 at 08:26
Sama seperti Pak Guru, “Menjadi warga negara yang baik dengan memanfaatkan hak pilih”, tp gara-gara itu 3 hari nggak OL. Tapi nggak apa-apalah, itung2 belajar melaksanakan demokrasi:)
[Reply]